Di akhir cerita, tak ada kejelasan tentang nasib lelaki itu. Dan ia tetap tak bergerak: menunggu sesuatu yang tak pernah bisa diukur dan diperkirakan.
Going Back to the corner
where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag
I’m not gonna move
Got some words on cardboard,
got your picture in my hand
saying, “if you see this girl
can you tell her where I am”
Demikianlah ia membuat keputusan—keputusasaan. Kisah yang tampak begitu romantis, tetapi selalu membuat kita bertanya-tanya—
Adakah yang lebih sinetron dari keputusan seorang anak manusia untuk tak beranjak dari masa lalu dan kesedihannya? Adakah yang lebih gombal dari kata-kata ‘aku tak bisa melanjutkan hidupku tanpa dirimu’?
Kenyataannya, dengan atau tanpa kesedihan kita, bumi masih berputar ke ujung malam untuk menidurkan manusia-manusia lain yang lelah dan bersedih. Terus berputar hingga pada saatnya matahari terbit kembali, burung-burung berkicau, embun menguap jadi udara, pasar-pasar bergerak, dan seorang perempuan muda mengangguk-anggukan lagi kepalanya mendengarkan lagu-lagu ceria dalam bus kota.
Tapi, “I’m not moving… I’m not moving…” kata Danny O’Donoghue.
Ah, ya, hidup adalah pilihan, semua orang tahu itu. Tapi ternyata tak semua orang membaca Haruki Murakami, pengarang Jepang yang seolah ingin menepuk-tepuk pundak O’Donoghue dan dua temannya di The Script yang terlanjur menyanyikan lagu sedih, A Man Who Can’t Be Moved (2008).
“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.” Kata Murakami.
Tapi O’Donoghue, dengan mata Irlandianya yang sendu, terus saja bernyanyi, “Maybe I’ll get famous / as the man who can’t be moved / Maybe you won’t mean to / but you’ll see me on the news / And you’ll come running to the corner / cause you’ll know it’s just for you / I’m the man who can’t be moved / I’m the man who can’t be moved.”
Murakami menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Coba kau pikirkan baik-baik,” kata Murakami, “Sebenarnya kondisi semua manusia sama saja—seperti menaiki sebuah pesawat yang rusak, oleng, dan akan terjatuh. Tentu saja di sana ada orang yang bernasib baik dan bernasib buruk. Ada yang kuat, ada juga yang lemah. Ada yang kaya, ada pula yang miskin. Hanya saja, tidak ada orang yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada orang lain… Semua orang sama, kapanpun hidup mereka akan berakhir! Karenanya manusia yang menyadari hal itu lebih cepat, harus berusaha menjadi sedikit lebih kuat. Sekedar berpura-pura kuat tidak apa-apa. Benar, kan? Di mana pun sebenarnya tak akan ada manusia yang kuat, yang ada hanyalah mereka yang pura-pura kuat.” (Hear the Wind Sing, Kodansha International, 1987).
Maka, sesaat setelah lagu The Script berhenti, tinggal kita yang mesti menertawakan diri sendiri. Ya, tersebab tak ada keputusasaan yang sempurna, maka bangkitlah bersalin rupa menjadi seseorang yang sedikit lebih kuat.
Sisanya, dengarkanlah nyanyian angin… Lalu pergilah. Bergerak, beranjak. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan, tapi untuk dimaafkan dan ditinggalkan.
readmore →MOVE ON!